HASIL DAN PEMBAHASAN
II.1.
III.1.
IV.1.
IV.1. Hasil
IV.1.1. Parameter Validasi Akurasi (Ketepatan)
Tabel IV.1.1.1. Data Pengujian Parameter Akurasi Natrium Lauril Sulfat
|
Sampel simulasi (%) |
Vol. Titran (mL) |
Kadar (%) |
Recovery (%) |
Ӿ recovery (%) |
RSD/SBR |
|
50 50 50 |
7,0 6,9 7,05 |
49,75181 49,04107 50,10718 |
98,14795 100,2816 98,85916 |
99,26671 |
1,093693 |
|
75 75 75 |
10,7 10,6 10,7 |
75,95053 75,24071 75,95053 |
100,2674 100,3209 101,2674 |
100,9519 |
0,541266 |
|
100 (1) 100 (1) 100 (1) |
13,8 14,1 13,9 |
98,14795 100,2816 98,85916 |
98,14795 100,2816 98,85916 |
99,09624 |
1,096310 |
|
100 (2) 100 (2) 100 (2) |
13,8 13,8 13,8 |
98,14795 98,14795 98,14795 |
98,14795 98,14795 98,14795 |
98,14795 |
0 |
|
125 125 125 |
17,3 17,5 18 |
122,9630 124,3845 127,9384 |
98,37039 99,50762 102,3507 |
100,0762 |
2,048609 |
|
150 150 150 |
20,8 20,5 20,8 |
147,8399 145,7076 147,8399 |
98,55993 97,13839 98,55993 |
98,08609 |
0,83674 |
Tabel IV.1.1.2. Data Pengujian Parameter Akurasi Natrium Sitrat
|
Sampel simulasi (%) |
Vol. Titran (mL) |
Kadar (%) |
Recovery (%) |
Ӿ recovery (%) |
RSD/SBR |
|
50 50 50 |
4,7 4,8 4,8 |
51,28195 51,87959 52,66107 |
102,5639 103,7592 105,3221 |
103,8817 |
1,331514 |
|
75 75 75 |
6,7 6,9 6,8 |
73,05390 75,63210 74,62875 |
97,4052 100,8428 99,5050 |
99,2510 |
1,745891 |
|
100 (1) 100 (1) 100 (1) |
9,2 9,1 8,9 |
100,9441 99,84687 97,65243 |
100,9441 99,84687 97,65243 |
99,48113 |
1,684770 |
|
100 (2) 100 (2) 100 (2) |
9,0 8,8 9,0 |
98,09983 94,97856 97,43548 |
98,09983 94,97856 97,43548 |
96,83795 |
1,697878 |
|
125 125 125 |
11,5 11,6 11,6 |
125,8585 125,6829 126,1790 |
100,6868 100,5463 100,9432 |
100,7254 |
0,199786 |
|
150 150 150 |
13,9 13,9 13,9 |
152,9790 152,9790 148,4796 |
101,9860 101,9860 98,98643 |
101,9860 |
1,714902 |
IV.1.2. Parameter Validasi Intermediet Presisi
Tabel IV.1.2. 1. DataPengujian Parameter Presisi Natrium Lauril Sulfat
|
No |
100% (Analis I) |
100% (Analis II) |
|
Kadar (%) |
Kadar (%) |
|
|
1 |
98,14795 |
98,14795 |
|
2 |
100,2816 |
98,14795 |
|
3 |
98,85916 |
98,14795 |
|
Jumlah |
297,2887 |
294,4438 |
|
Rata-rata SD SBR |
99,09624
1,086402 1,096310 |
98,14795
0 0 |
Tabel IV.1.2. 2. Data Pengujian Parameter Presisi Natrium Sitrat
|
No |
100% (Analis I) |
100% (Analis II) |
|
Kadar (%) |
Kadar (%) |
|
|
1 |
100,9441 |
98,09983 |
|
2 |
99,84687 |
94,97856 |
|
3 |
97,65243 |
97,43548 |
|
Jumlah |
298,4434 |
290,5139 |
|
Rata-rata SD SBR |
99,48113
1,676029 1,684770 |
96,83795
1,644190 1,697878 |
IV.1.3. Asam Sorbat dengan HPLC
Gambar 4.10. Data Hasil HPLC Sampel Asam Sorbat 100%
Gambar 4.11. Data Hasil HPLC Larutan Standart Asam Sorbat 100%
Tabel IV.1.3.1. Data Kromatogram Asam Sorbat pada Larutan Uji
|
SAMPEL |
WAKTU RETENSI |
AREA |
KONSENTRASI |
|
Sampel Asam Sorbat 100% |
4,684 |
925303 |
0,067 |
|
Rata-Rata |
4,684 |
925303 |
0,067 |
Tabel IV.1.3.2. Data Kromatogram Asam Sorbat pada Larutan Baku
|
SAMPEL |
WAKTU RETENSI |
AREA |
KONSENTRASI |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,757 |
13447159 |
1,000 |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,746 |
13478916 |
1,001 |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,775 |
13448995 |
0,999 |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,774 |
13457889 |
1,000 |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,774 |
13430711 |
0,998 |
|
Standar Asam Sorbat 100% |
4,778 |
13367870 |
0,995 |
|
Rata-Rata |
4,778 |
13438590 |
0,999 |
II.2.
III.2.
IV.2.
V.2.
VI.2.
IV.2. Pembahasan
Percobaan ini berjudul “Pengembangan Metode Analisis Kadar Zat Aktif ( Natrium Lauril Sulfat, Sorbitol, Asam Sorbat, Natrium Sitrat ) pada Formulasi Baru Produk Jadi Sediaan Obat Pencahar”, bertujuan untuk mengetahui metode yang tepat dan menganalisis kadar zat aktif Natrium Lauril Sulfat, Sorbitol, Asam Sorbat, dan Natrium Sitrat dalam obat pencahar Laxarec. Metode yang digunakan adalah titrasi asidi-alkalimetri untuk Natrium Lauril Sulfat, titrasi Iodometri untuk Sorbitol, titrasi bebas air untuk Natrium Sitrat dan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC) untuk Asam Sorbat. Sampel yang digunakan adalah formulasi baru sediaan obat pencahar dengan konsentrasi masing-masing zat aktif 50%, 75%, 100%, 125%, dan 150%.
IV.2.1. Pengembangan Metode Asidi-Alkalimetri untuk Analisis Kadar Natrium Lauril Sulfat
Berdasarkan European Pharmacopoeia 491 (2008), penentuan kadar Natrium Lauril Sulfat dapat dilakukan dengan metode titrasi asidi-alkalimetri. Dari referensi inilah kemudian perlu dilakukan pengembangan metode untuk memastikan dan mengetahuai apakah metode ini dapat digunakan untuk menentukan kadar zat aktif Natrium Lauril Sulfat dalam formulasi baru obat pencahar.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui metode yang tepat dalam penentuan kadar natrium lauril sulfat (NLS) pada konsentrasi 50%, 75%, 100%, 125%, dan 150% sampel formulasi baru sediaan obat pencahar. Prosedur yang dilakukan adalah metode titrasi asidi-alkalimetri yang digunakan untuk menentukan kadar basa suatu larutan dengan menggunakan larutan asam yang telah diketahui konsentrasinya. Prinsip dari percobaan ini adalah reaksi netralisasi. Reaksi netralisasi adalah reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral.
Masing-masing sampel dengan prosentase penambahan natrium lauril sulfat yang berbeda-beda dilakukan penimbangan yang setara dengan 10 x BJ, penimbangan ini dikarenakan pada setiap ml sediaan obat pencahar mengandung zat aktif NLS sebanyak 9 mg. Kemudian dilakukan pengenceran pada labu ukur 100 mL. Pengenceran bertujuan untuk melarutkan sampel yang berbentuk kental. Kemudian dilakukan penambahan kloroform dan indikator dimidium biru sulfan. Kloroform berfungsi untuk mengikat gugus yang bersifat non polar pada sampel, sedangkan air akan mengikat gugus polar pada sampel sehingga akan terdapat dua lapisan antara air dan kloroform. Kloroform mempunyai massa jenis yang lebih besar daripada air, sehingga kloroform berada di bagian bawah. Massa jenis kloroform adalah 1,4474 g/mL, dan massa jenis air adalah 0,9991 g/mL. Indikator dimidium biru sulfan merupakan indikator campuran yaitu pewarna kationik (dimidium bromida) dan pewarna anionik (biru disulfin). Natrium lauril sulfat akan membentuk garam dengan pewarna kationik yang larut dalam lapisan kloroform, ditunjukkan dengan warna merah muda pada lapisan bawah.
Selanjutnya dilakukan titrasi dengan menggunakan Hyamin 1622. Hyamin 1622 sering disebut dengan Benzetonium Cloride dengan rumus kimia C27H42ClNO2 yang memiliki berat molekul 448.08 g/ml. Benzetonium Cloride mempunyai titik leleh 162-164 °C dan densitas 0.998 g/mL. Mempunyai daya larut yang baik terhadap air, alcohols, glycols, ethoxyethanol, ethyleneglycol monomethyl ether, dan tetrachlorethane (USAD-16779).
Gambar 4.12. Hyamin 1622 (Benzetonium Cloride)
Penggunaan larutan Hyamin 1622 untuk titrasi, dikarenakan Hyamin 1622 merupakan larutan asam yang sudah diketahui konsentrasinya. Titik akhir terjadi ketika Hyamin 1622 menggantikan dimidium kationik yang berasal dari garam larut dalam kloroform, hal ini ditunjukkan dengan warna merah muda pada lapisan kloroform akan hilang dan garam yang terbentuk akan terlarut dalam fasa air. Kelebihan Hyamin 1622 akan membentuk warna dengan pewarna anionik biru disulfin yang larut dalam lapisan kloroform dengan titik akhir berwarna biru (European Pharmacopoeia,2008).
Natrium Lauril Sulfat merupakan sulfaktan, sehingga dapat berkonsentrasi pada cairan-cairan yang tidak saling campur satu sama lain seperti air-kloroform. Hal tersebut dikarenakan bagian kepala NLS mengandung OSO2O– yang bersifat hidrofilik dan bagian ekor NLS yang mengandung rantai hidrokarbon yang lebih bersifat hidrofobik (Shaw,1992). Adanya Na+ inilah yang membentuk warna merah muda dengan dimudium bromida dalam kloroform. Sedangkan penambahan larutan Hyamin 1662 akan menyebabkan warna merah muda berubah menjadi biru ke abu-abuan dikarenakan adanya Hyamin 1622 akan
menggantikan dimidium kationik yang berasal dari garam yang larut dalam kloroform.. Reaksi kimia yang terjadi (Shaw, 1992) :
Gambar 4.13. Reaksi antara Hyamin 1622 dengan Natrium Lauril Sulfat
Untuk memastikan bahwa senyawa yang bereaksi pada titrasi ini benar Natrium Lauril sulfat, maka dilakukan titrasi pada placebo (larutan tanpa zat aktif) yang menunjukan bahwa adanya perubahan warna merah muda menjadi biru keabu-abuan pada 1 sampai 2 tetes Hyamine 1622.
Hasil yang diperoleh setelah perhitungan konsentrasi pada konsentrasi 50% adalah 49,63%, 75% adalah 75,71%, 100% adalah 99,09%, 125% adalah 125,09% dan 150% adalah 147,01% dengan menggunakan metode titrasi asidi-alaklimetri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode titrasi asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk menentukan kadar Natrium Lauril Sulfat pada produk formulasi baru pada sediaan obat pencahar.
(a) matriks sebelum titrasi (b) matriks setelah titrasi
Gambar 4.14. Matriks uji Natrium Lauril Sulfat menggunakan metode titrasi asidi-alkalimetri dengan titran Hyamin 1622 dan indikator dimidium biru sulfan
IV.2.2. Pengembangan Metode Titrasi Iodometri untuk Analisis Kadar Sorbitol
Berdasarkan European Pharmacopoeia 491 (2008), penentuan kadar Sorbitol dapat dilakukan dengan menggunakan HPLC, tetapi berdasarkan pengembangan dan validasi pada formulasi lama sediaan obat pencahar dan analisis bahan baku sorbitol PT Galenium Pharmasia Laboratories, penentuan kadar sorbitol diguanakan metode titrasi iodometri. Sehingga metode titrasi iodometri dipilih untuk dilakukan pengembangan metode penentuan kadar sorbitol formulasi baru sediaan obat pencahar. Metode ini dipilih untuk dilakukan pengembangan karena selain mudah dilakukan, metode ini juga dirasa fleksibel (dapat dilakukan dimana saja karena tidak menggunakan alat yang khusus). Dari referensi inilah kemudian perlu dilakukan pengembangan metode untuk memastikan dan mengetahui apakah metode ini dapat digunakan untuk menentukan kadar zat aktif sorbitol dalam formulasi baru obat pencahar.
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui metode yang tepat dalam penentuan kadar sorbitol pada konsentrasi 50%, 100%, dan 150% sampel formulasi baru sediaan obat pencahar. Prosedur yang dilakukan adalah metode titrasi iodometri. Reaksi Iodometri adalah suatu reaksi penentuan kadar suatu zat dengan bantuan iodium sebagai zat pengoksidasinya. Prinsip dari percobaan ini adalah reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Reaksi redoks adalah suatu reaksi berkurangnya atau bertambahnya satu atau lebih elemen secara bersamaan.
D-sorbitol, D-glucitol, L-gulitol, sorbit atau sorbol adalah monosakarida poliol mempunyai berat molekul 182,17 dengan rumus kimia C6H14O6. Kemanisannya hanya 0,5 kali gula tebu. Sorbitol larut dalam pelarut polar seperti air dan alkohol. Sorbitol secara komersial dibuat dari glukosa dengan hidrogenasi dalam tekanan tinggi maupun reduksi elektrolit (Cahyadi. W., 2006).
Kelebihan konsumsi sorbitol dapat menimbulkan diare osmotik. Hal ini terjadi apabila sorbitol terdapat dalam saluran pencernaan dalam jumlah besar (lebih dari 50 gram per hari), sehingga tekanan osmosis dalam lumen usus lebih tinggi daripada sekitarnya. Hal ini menyebabkan sejumlah besar cairan yang ada di interstisial terdorong ke lumen usus, dan terjadilah diare. Efek samping lainnya adalah sakit perut dan kembung (Backvall, 1991). Oleh karena sifat itulah sorbitol merupakan salah satu zat aktif penyusun formulasi sediaan obat pencahar.
Masing-masing sampel dengan prosentase penambahan sorbitol yang berbeda-beda dilakukan penimbangan yang setara dengan 0,45 x BJ, penimbangan ini dikarenakan pada setiap ml sediaan obat pencahar mengandung zat aktif sorbitol sebanyak 960 mg. Kemudian dilakukan pengenceran pada labu ukur 100 mL. Pengenceran bertujuan untuk melarutkan sampel yang berbentuk kental. Kemudian dilakukan pemipetan 10 mL latutan tersebut ke dalam erlenmeyer asah 250 mL dan penambahan 50 mL larutan natrium periodat 0,3% diikuti dengan 1 mL asam sulfat pekat, kemudian dihomogenisasikan. Natrium periodat berfungsi untuk mengoksidasi sorbitol, sedangkan asam sulfat pekat berfungsi sebagai katalis. Setelah itu dilakukan perefluksan yang bertujuan untuk mempercepat proses reaksi yang terjadi tanpa adanya senyawa yang hilang. Kemudian ditambahkan 2,5 g kalium iodida, segera tutup erlenmeyer dan kocok perlahan hingga larut, biarkan di tempat gelap selama 5 menit. Penambahan kalium iodida berfungsi untuk mendeteksi adanya ikatan rangkap pada senyawa dengan cara pemutusan ikatan rangkap oleh iodium yang terdapat pada kalium iodida. Setelah itu dititrasi dengan Natrium Thiosulfat 0,1 N dengan menggunakan indikator amilum 0,5%. Natrium Thiosulfat berfungsi untuk mengikat kalium iodida yang berlebih pada larutan. Kalium Iodida yang ditangkap oleh Natrium Thiosulfat adalah kalium iodida yang tidak digunakan untuk pemutusan ikatan rangkap pada senyawa. Sehingga semakin banyak sorbitol yang terkandung dalam formulasi baru sediaan obat pencahar, maka semakin sedikit volume Natrium Thiosulfat yang digunakan untuk titrasi. Reaksi yang terjadi :
K+––I03 + 5I– + 6H+ 3I2 + 3H2O
Kalium Iodida kation dari H2SO4 oksida fruktosa
|
|
Gambar 4.15. Reaksi Iodometri pada penentuan kadar sorbitol
Hasil yang diperoleh setelah perhitungan kadar Sobitol 50% adalah 82,803%, 100% adalah 98,762%, dan 150% adalah 104,41%. Dari hasil ini terjadi error metode bahwa pada semua konsentrasi mengarah pada kadar 100%. Sehingga perlu dianalisis lebih lanjut tentang penyebab terjadinya error metode tersebut. Analisis yang dilakukan untuk mengetahui penyebab error terhadap metode tersebut dilakukan pengujian terhadap placebo. Hasil yang ditunjukan adalah terbacanya kadar sebesar 35,382% sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya zat pengganggu dalam formulasi baru produk jadi laxarec sehingga kadar sorbitol yang terdeteksi tak sesuai.
Berdasarkan analisis yang dilakukan zat yang dicurigai sebagai zat pengganggu adalah Butil Hidroksi Toluene (BHT). BHT adalah turunan Toluena yang biasanya digunakan sebagai pengawet dengan cara kerjanya sebagai antioksidan. Antioksidan pada polimer berfungsi sebagai stabilizer panas sehingga dapat menghambat proses degradasi pada polimer terutama produk-produk polipropilena. Antioksidan adalah zat yang dapat menangkap radikal bebas dimana antioksidan itu sendiri adalah antioksidan.
Antioksidan yang bertindak sebagai penghambat degradasi bereaksi dengan radikal-radikal bebas (ROO– , RO–, –OH) untuk memutuskan agar siklus reaksi tidak terjadi. Antioksidan tersebut juga sebagai “Pemangsa” radikal bebas, untuk golongan fenol disebut juga pengganggu (Schmutz and Stadier, 2005). Antioksidan ini melindungi polimer agar tidak terdegradasi selama proses gangguan panas, sianr UV, dan tegangan permukaan zat serta pengotor. Ketika terbentuk radikal bebas pada polimer langsung dimangsa oleh antioksidan yang ditunjukan pada skema reaksi antioksidan dari Butil Hidroksi Toluene (Gerald and Norman, 1985).
Gambar 4.16. Reaksi oksidasi Butil Hidroksi Toluen (BHT)
Dari sifat BHT yang berfungsi sebagai antioksidan, maka BHT memiliki tingkat Oksidasi yang lebih tinggi dibandingkan Sorbitol dan prinsip titrasi Iodometri adalah reaksi oksidasi-reduksi, maka mekanisme proses oksidasi sorbitol akan terhambat oleh adanya antioksidan. Pada saat penambahan Natrium periodat, maka BHT yang akan teroksidasi terlebih dahulu dibandingkan Sorbitol. Sehingga kadar yang terbaca dalam titrasi Iodometri ini bukan hanya kadar Sorbitol melainkan juga kadar BHT dalam sampel. Oleh karena itulah kadar yang terbaca oleh matrik pada semua konsentrasi mendekati 100%.
Untuk memperkuat teori ini, dilakukan analisis pada penambahan sorbitol dengan konsentrasi 150% tanpa BHT. Hasil yang diperoleh menunjukan kadar 148,72%. Hasil tersebut mendekati kadar 150% sehingga dapat disimpulkan bahwa BHT merupakan zat pengganggu dalam reaksi oksidasi sorbitol dan metode titrasi iodometri tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar sorbitol dalam obat pencahar laxarec formulasi baru.
IV.2.3. Pengembangan Metode Titrasi Bebas Air (TBA) untuk Analisis Kadar Natrium Sitrat
Berdasarkan U.S Pharmaopeia 970 (2011), penentuan kadar Natrium Sitrat dapat dilakukan dengan metode Titrasi Bebas Air (TBA). Dari referensi inilah kemudian perlu dilakukan pengembangan metode untuk memastikan dan mengetahuai apakah metode ini dapat digunakan untuk menentukan kadar zat aktif Natrium Sitrat dalam formulasi baru sediaan obat pencahar.
Titrasi Bebas Air (TBA) adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan kadar senyawa yang sifat keasaman atau kebasaannya sangat lemah dan tidak memberikan hasil yang memuaskan bila diterapkan dengan titrasi biasa yang menggunakan pelarut air. Oleh karena itu, dalam titrasi ini dipakai pelarut yang bebas air dan dapat menaikkan sifat keasaman atau kebasaan senyawa yang dianalisis (Rivai,1995).
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui metode yang tepat dalam penentuan kadar Natrium Sitrat pada konsentrasi 50%, 75%, 100%, 125% dan 150% sampel formulasi baru sediaan obat pencahar. Prosedur yang dilakukan adalah metode Titrasi Bebas Air (TBA). Prinsip dari percobaan ini adalah reaksi netralisasi. Reaksi netralisasi adalah reaksi antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan suatu senyawa yang bersifat netral tanpa air.
Natrium sitrat ( C6H5Na3O7 ) merupakan suatu senyawa yang memiliki unsur Natrium yang diikat oleh oksigen dalam struktur asam sitrat. Natrium sitrat tidak berbau dan memiliki rasa, dan bersifat asam . Natrium sitrat dapat berbentuk anhidrat atau dapat berisi dua atau lebih molekul air (Fenaroli, 2005).
Masing-masing sampel dengan prosentase penambahan Natrium Sitrat yang berbeda-beda dilakukan penimbangan yang setara dengan 1 x BJ, penimbangan ini dikarenakan pada setiap ml sediaan obat pencahar mengandung zat aktif natrium sitrat sebanyak 90 mg. Kemudian dilakukan penguapan di atas penangas air suhu 70oC. Penguapan ini bertujuan untuk penghilangan molekul air pada campuran tersebut. Setelah itu ditambahkan 10 ml asam asetat anhidrat dan 30 ml asam asetat glacial. Penambahan ini bertujuan untuk membuat larutan bersifat asam. Asam inilah yang akan mengikat Natrium Sitrat yang ada dalam sampel. Kemudian dilakukan penguapan kembali pada suhu 70oC. Penguapan ini selain bertujuan untuk penghilangan molekul air dalam sampel juga untuk mempercepat proses pelarutan. Dengan adanya penambahan kalor, energi aktivasi senyawa akan meningkat. Peningkatan energi aktivasi ini akan membuat partikel-partikel dalam senyawa akan bergerak semakin cepat sehingga intensitas tumbukan antara partikel satu dengan yang lain akan semakin besar. Hal inilah yang menyebabkan larutan cepat bereaksi. Kemudian ditambahkan seujung sudip α-Naphtolbenzein sebagai indikator. Setelah itu dilakukan penitrasi dengan HClO4 0,1N hingga larutan berwarna hijau. Penitrasian dengan HClO4 0,1N berfungsi untuk penetralan larutan yang bersifat basa karena HClO4 0,1N merupakan senyawa yang bersifat asam sehingga proses netralisasi membentuk garam (U.S
Pharmacopeia, 2011). Reaksi yang terjadi :
|
|
|
|
Gambar 4.17. Reaksi Natrium Sitrat dengan Asam Perklorat dalam
Titrasi Bebas Air ( TBA )
Untuk memastikan bahwa senyawa yang bereaksi pada titrasi ini benar Natrium Sitrat, maka dilakukan titrasi pada placebo (larutan tanpa zat aktif) yang menunjukan bahwa adanya perubahan warna kuning menjadi hijau pada 1 sampai 2 tetes Asam Perklorat.
Hasil yang diperoleh setelah perhitungan konsentrasi pada konsentrasi 50% adalah 51,94087%, 75% adalah 74,43825%, 100% adalah 99,48113%, 125% adalah 125,9068% dan 150% adalah 151,4792% dengan menggunakan metode Titrasi Bebas Air (TBA). Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode Titrasi Bebas Air (TBA) dapat digunakan untuk menentukan kadar Natrium Sitrat dalam produk formulasi baru sediaan obat pencahar.
Gambar 4.18. Matriks uji Natrium Sitrat menggunakan metode Titrasi Bebas Air (TBA) dengan titran Asam Perklorat dan indikator α-Naphtolbenzein
IV.2.4. Pengembangan Metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk Analisis Kadar Asam Sorbat
Berdasarkan U.S Pharmaopeia 970 (2011), penentuan kadar Asam Sorbat dapat dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Dari referensi inilah kemudian perlu dilakukan trial metode untuk memastikan dan mengetahuai apakah metode ini dapat digunakan untuk menentukan kadar zat aktif Natrium Sitrat dalam formulasi baru sediaan obat pencahar.
Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan system pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi karena di dukung oleh kemajuan dalam teknologi kolom, system pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitive dan beragam sehingga mampu menganalisa berbagai cuplikan secara kualitatif maupun kuantitatif, baik dalam komponen tunggal maupun campuran (Ditjen POM, 1995).
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau biasa di sebut dengan HPLC (High Perfomace Liquid Chromatolography) merupakan teknik pemisahan yang d terima secara luas untuk analisis dan pemurnian senyawa tertentu dalam suatu sampel pada sejumlah bidang antara lain : farmasi, lingkungan, dan industri-industri makanan (Ditjen POM, 1995).
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui metode yang tepat dalam penentuan kadar Asam Sorbat pada sampel Laxarec formulasi baru. Prosedur yang dilakukan adalah metode HPLC (High Perfomace Liquid Chromatolography). Prinsip dari percobaan ini adalah reaksi pemisahan senyawa dari campurannya.
Asam sorbat merupakan rantai lurus asam lemak tak jenuh dengan berat molekul 112,13. Asam sorbat warnanya lebih rendah dalam bentuk kristal, flakes, berwarna putik seperti bubuk atau granula, mempunyai karakteristik bau yang tajam dan mempunyai rasa yang asam. Dan dikomersialkan dalam bentuk garam, kalsium dan potasium sorbat. Kelaruran asam sorbat dalam suhu ruang hanya 0,15 gram/100 ml, bertambah dengan kenaikan temperatur dan pH. Kelarutan asam sorbat akan lebih tinggi dalam alkohol seperti etanol, glasial asam asetat. Asam sorbat lebih banyak diaplikasikan dalam makanan karena kelarutannya lebih tinggi dalam air (Rizky Kurnia, 2010).
Sampel asam sorbat dilakukan penimbangan setara dengan 5 x BJ ke dalam labu ukur 50 ml. Kemudian dilarutkan dalam pelarut hingga tanda batas, kocok dan sonifikasi selama 10 menit. Pelarut yang digunakan adalah campuran asetonitril dan dapar asetat pH 5,0 dengan perbandingan 5:95. Pelarutan ini digunakan dengan tujuan melarutkan sampel sesuai dengan prinsip like dissolve like. Selain itu juga digunakan pelarut ini karena pelarut ini sesuai dengan fase geraknya yaitu campuran asetonitril dan dapar asetat pH 5,0 dengan perbandingan 15:85 sehingga pemisahan dalam kolom HPLC dapat berjalan sempurna. Sedangkan sonifikasi dilakukan bertujuan untuk menghilangkan gelembung udara yang ada akibat pengocokan. Gelembung ini dihilangkan karena dapat menghambat kinerja HPLC dalam pemisahan suatu senyawa dalam suatu campuran. Kemudian sampel disaring dengan kertas saring PTFE berporositas 0,45 µm untuk menghilangkan pengotor yang dapat menggangu saat analisis. Setelah itu pipet 10,0 ml larutan dalam labu ukur 10,0 ml, kemudian encerkan dengan pelarut hingga tanda batas.
HPLC merupakan suatu metode pemisahan yang melibatkan dua macam fase, yaitu fase gerak (mobile phase) dan fase diam (stationer phase). Dalam HPLC yang bertindak sebagai fase gerak adalah cairan, sedangkan sebagai fase diam adalah padatan. Fase gerak dan fase diam yang digunakan dalam HPLC harus benar-benar diperhatikan dan sesuai dengan sifat atau karakter sampel yang akan dianalisis, agar pemisahan dapat berlangsung dengan baik.
Pemilihan komposisi atau variasi cairan fase gerak sangat tergantung pada sifat sampel dan mekanisme pemisahannya di dalam kolom (fase diam). Kolom atau fase diam yang dipakai dalam metode ini adalah kolom RP-18 (Revearse Phase) yang bersifat non polar. Oleh karena itu, fase gerak yang digunakan haruslah bersifat polar karena sampel yang akan dianalisis yaitu asam sorbat bersifat non polar, hal ini sesuai dengan prinsip like dissolve like, yaitu zat terlarut polar akan larut dalam pelarut polar, dan zat terlarut non polar akan larut dalam pelarut yang juga bersifat non polar.
Selain fase gerak dan fase diam, komponen-komponen penting lain dalam HPLC juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan sifat atau karakter sampel. Misalnya saja jenis detektor yang digunakan dan teknik elusi. Detektor yang digunakan detektor UV. Alasan pemakaian detektor ini adalah karena sampel yang dianalisis (asam sorbat) memiliki ikatan rangkap terkonjugasi, sehingga detektor yang paling cocok untuk mendeteksi senyawa yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi adalah detektor UV. Detektor ini diatur pada panjang gelombang tertentu dimana panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang terjadinya absorbansi (serapan) maksimum. Panjang gelombang yang digunakan untuk menentukan asam sorbat dalam adalah 254 nm dengan laju alir 1,0 ml/menit.
Hasil kromatogram adalah sampel yang diinjeksikan dalam HPLC mempunyai kadar 99,688% dengan waktu retensi 4,684. Waktu retensi ini berada pada range standart asam sorbat yaitu 4,5 – 4,8 dengan waktu retensi rata – rata 4,778, sehingga dapat disimpulkan bahwa senyawa aktif yang terdeteksi adalah asam sorbat. Kadar sampel yang diperoleh dalam percobaan ini tidak mencapai 100% dikarenakan preparasi sampel yang kurang akurat dan teliti, sehingga ada beberapa zat aktif yang hilang.
Dari waktu retensi yang ditunjukan sesuai dengan standart asam sorbat, sehingga dapat disimpulkan bahwa metode HPLC dengan fase diam ( kolom) RP-18, fase gerak campuran asetonitril dan dapar asetat pH 5,0 dengan perbandingan 15:85, detektor UV dengan panjang gelombang 254 nm, analisis pada suhu ruang dan laju alir 1,0 µm/menit dapat digunakan untuk menentukan kadar asam sorbat dalam produk formulasi baru sediaan obat pencahar.

